Minggu, 06 Oktober 2013

SENI LUKIS EKSPRESIONISME



BAB I
SENI LUKIS EKSPRESIONISME

Ekspresionisme adalah kecenderungan seorang seniman untuk mendistorsi kenyataan dengan efek-efek emosional. Ekspresionisme bisa ditemukan di dalam karya lukisa, sastra, film, arsitektur, dan musik. Istilah emosi ini biasanya lebih menuju kepada jenis emosi kemarahan dan depresi daripada emosi bahagia.
Perupa dari abad 20 yang tergolong ekspresionis adalah:
Aliran ekspresionisme berkembang sepanjang akhir abad 19 dan awal abad 20. Kemunculannya merupakan reaksi terhadap standar akademik yang berlaku di Eropa sejak Renaisans, terutama seni akademik di Prancis dan Jerman. Pelukis ekspresionis berusaha menghadirkan pengalaman emosional, mereka tidak tertarik pada realitas seperti yang terlihat. Subjek lukisan seringkali mengalami distorsi bentuk, dilebih-lebihkan atau diubah untuk menekankan aspek pengalaman emosional.
Istilah ekspresionisme mulai diterapkan untuk menjuluki lukisan sejak tahun 1911 ketika lukisan corak ini semakin banyak diciptakan oleh para seniman di sejumlah negara. Pada akhir abad 19 dan awal abad 20 pelukis Vincent Van Gogh dari Belanda, Paul Gauguin dari Prancis dan pelukis Edvard Munch dari Norwegia melukis dengan menggunakan warna garang dan garis berlebihan untuk mengungkapkan aspek emosi dalam lukisan. 
Kelompok paling penting ekspresionisme abad 20 ada di sekolah Jerman. Gerakan dimulai oleh pelukis Ernst Ludwig Kirchner, Erich Heckel dan Karl Schmidt Rottluff yang mengorganisasikan sebuah kelompok yang disebut Die Brucke (Jembatan) di Dresden pada tahun 1905. Pada tahun berikutnya bergabung seniman Emil Nolde dan Max Pechstein dan Otto Muller.
Pada tahun 1912 kelompok ini memamerkan lukisan dengan kelompok Munich yang disebut Der Blaue Reiter. Perkembangan selanjutnya para pelukis ekspresionis bertambah lagi, bergabung perlukis Jerman seperti Franz Marc, August Macke, Gabriele Munter dan Heinrich Campendonk, Paul Klee (Swiss), Wassily Kandinsky (Rusia). 
Fase ekspresionisme di Jerman ditandai dengan kesadaran pengungkapan emosi dan mempertinggi kepekaan terhadap ungkapan ekspresif. Kelompok Die Brucke hancur pada tahun 1913, Perang Dunia I (1912-1918) menghentikan semua aktivitas kelompok ini. Eksprsionisme sempat memberi pengaruh pada lukisan fauvisme seperti terlihat pada lukisan karya Georges Braque (Prancis) dan Pablo Picasso (Spanyol). 
Fase berikutnya ekspresionisme di Jerman disebut Die Neue Sachlichkeit (Objektivitas Baru). Kelompok ini didirikan oleh Otto Dix dan George Grosz. Karakteristik karyanya mengungkapkan kebenaran sosial, satiris dan sinisme. Ekspresionisme menjadi gerakan internasional, sejumlah pelukis berkarya dengan karakteristik ekspresionisme. Mereka antara lain pelukis Oskar Kokoshka (Austria), pelukis George Rouault (Prancis), pelukis Chaim Soutine (Lithuania, pelukis Jules Pasein (Bulgaria), dan pelukis Max Weber (Amerika).
Abstrak Ekspresionisme
Lukisan abstrak ekspresionisme berkembang pada pertengahan abad 20. Lukisan ini mengungkapkan spontanitas individual melalui aksi melukis. Gaya dan karakteristiknya lebih bervariasi. Lukisan abstrak ekspresionisme umumnya tidak berupa gambaran yang bisa dikenali, tidak lagi melekat pada batas-batas bentuk konvensional. Akar abstrak ekspresionisme bermula pada lukisan nonfiguratif secara total.
Kedatangan sejumlah pelukis Eropa di New York pada masa Perang Dunia II (1939-1945) menginspirasi pelukis Amerika. Pelukis Eropa seperti Max Ernst, Marcel Duchamp, Marc Chagall dan Yves Tanguy, menginspirasi sejumlah pelukis Amerika pada tahun 1940an-1950an. Pelukis Amerika juga dipengaruhi oleh abstraksi subjektif pelukis Armenia Arshile Gorky yang bermigrasi ke negeri tersebut tahun 1920. Pelukis Jerman Hans Hofmann dengan karyanya yang menekankan pada interaksi dinamis bidang warna juga menginspirasi sejumlah pelukis Amerika.
Di Amerika, gerakan abstrak ekspresionisme berpusat di New York. Ada dua kecenderungan besar yang muncul pada gerakan ini, yaitu lukisan berdasarkan aksi pelukis (Action Painters) dan lukisan yang menekankan pada warna dan bentuk. Aksi pelukis (Action Painters) berkaitan dengan tekstur cat dan gerakan pelukis dalam proses penciptaannya, lukisan diciptakan melalui aksi atau gerak tubuh pelukis. Jackson Pollock adalah tokoh dalam menciptakan lukisan dengan metode ini. Pendekatannya dalam berkarya unik, dia membuat jalinan garis dengan meneteskan cat pada permukaan kanvas.
Pelukis lain Willem de Kooning dan Franz Josef Kline menggunakan sapuan kuas lebar untuk menciptakan ritme abstraksi, sehingga menciptakan kesan ruang tanpa batas. Pelukis Mark Rothko menciptakan warna-warna dalam bentuk bujur sangkar pada karyanya. Pelukis lain seperti Bradley Walker Tomlin, Philip Guston, Robert Burns Motherwell, Adolph Gottlieb dan Clyfford Still berkarya dengan menggabungkan metode/action painting dan metode melukis bidang warna.
Perkembangan Ekspresionisme
Sekarang ini lukisan ekspresionisme berkembang di seluruh dunia. Corak lukisan ekspresionisme ada yang figuratif hingga abstrak. Metode berkaryanya ada yang menggunakan kuas, tetesan cat, hingga menggunakan tubuh sebagai alat mengekspresikan warna. Lukisan ekspresionisme figuratif maupun abstrak berkembang juga di Indonesia. Affandi adalah pelukis ekspresionis terkemuka Indonesia.
Dalam teori, lukisan ekspresionisme berusaha menggambarkan atau melukiskan aktualitas yang sudah didistorsikan kearah suasana bentuk dan warna guna melahirkan emosi ataupun sensasi dari dalam berupa gambaran tragedi, kekerasan serta berbagai dinamika dan peristiwa yang direkam pelukis untuk divisualisasikan kepermukaan kanvas.
Teori lain tentang ekspresionisme juga menyebutkan, bahwa mazhab ini mengutamakan curahan batin sendiri secara bebas dan mengungkap perwatakan atas suatu gejala, lebih jauh sampai kepada pengungkapan renungan batin yang bebas dari kenyataan diluar dirinya.
Namun pada hakekatnya semua karya seni termasuk ekspresionisme, karena memang merupakan ekspresi seniman. Karya bersifat subjektif dan ungkapan sebebasnya dari seniman biasanya digolongkan ekspresionisme. Kemudian pelukis tidak melukiskan pandangan mata melainkan perasaan hati, bukan lahiriah tetapi kejiwaan, misalnya melukis panasnya “anglo” atau “tungku api” tidak dengan pewarnaan coklat tua warna asal bahan, melainkan merah membakar yang memancarkan panas diperkuat unsur garis sebagai peranan penting yang tidak boleh diabaikan, mengingat garis dapat melahirkan perwatakan atau ekspresi.
Baik warna maupun bentuk banyak yang diubah sedemikian rupa hingga mendorong pelukisan suasana warna dan bentuk. Bahkan Worringer pernah mengatakan bahwa karya-karya ekspresionisme kebanyakan terdapat suatu tendensi kearah individualistis pribadi-pribadi yang tidak menumbuhkan nilai sosialnya, tetapi justru yang hadir kesadaran terhadap isolasi orang lain disekitar kita. Kemudian pendapat Daumier, bahwa hal yang seyogyanya selalu kita lihat dalam menyoal individualistis karena adanya kesadaran seniman untuk mengisolasi diri dan menemukan inspirasi serta motivasinya diri sendiri.
Batasan yang paling spesifik perihal ekspresionisme kemudian terus bergulir bahkan berkembang mengarah kepada ”sesuatu” kecenderungan penggayaan/style, mazhab atau aliran seni lukis abad 20 yang lahir di Jerman yang dalam beberapa saat berkembang disana. Tokoh-tokoh berpengaruh diantaranya adalah Franz Marc (1880-1916) dengan melukis binatang bebas tanpa mempedulikan anatomi. Tiap warna yang dioleskan dan goresan garis mempunyai arti mendukung ungkapan perwatakannya. Tokoh lainnya diantaranya : Vincent Van Gogh, P. Gauguin. Henri Matisse, Andre Derrain
EKSPRESIONISME MURNI DAN EROPA UTARA
Menyimak perjalanan seni lukis ekspresionisme kecuali peformance karya-karya yang pernah dihasilkan para seniman, ternyata ekpresionis-ekspresionis yang muncul kepermukaan yang dinilai murni berasal dari seniman-seniman Eropa utara lebih dikenal dekat dengan sifat-sifat Worringer. Dari Belanda ada Van Gogh, Jerman dan Rusia tercatat Kandinsky, Jawlensky. Sementara Van Gogh, Paul Gauguin banyak berpengaruh timbulnya ekspresionisme di Jerman. Pelopor dari Swiss Ferdinant Hodler (1853-1918), Belgia, James Ensor (1860-1949) dan Edward Munch (1863-1944).
Dari banyak pendapat yang terus menggelinding, ekspresionisme sering disebut lawan impresionisme yang hanya berusaha melukiskan kesan optik dari sesuatu guna melihat dunia sebagai sebuah tempat yang indah penuh warna, penuh dinamika. Sementara ekspresionisme menjelajah jiwa yang pancarannya keluar merupakan kegelapan yang menyelubung dunia.
Tahun 1905 kelomopok Die Brucke bertepatan lahirnya kecenderungan penggayaan/style Fauvisme di Dresden maka saat itu pula segera terbentuk gerakan ekspresionisme secara resmi pertama kalinya di belahan dunia ini, meski waktu itu istilah ekspresionisme belum dipakai. Enam tahun kemudian muncul nama ekspresionisme sesungguhnya dengan para pelopor pembentukannya antara lain Ernst Ludwing Kirchen (1880-1938),  Max Pechsten (1884-1955), Emil Noide (11867-1956) dan Otto Mueller (1974-1930).
Karya-karya yang menonjol kelompok Die Brucke antara lain ; ”Jalan di Berlin” (1913) dan ”Jalan di Dresden” karya Kirrshner, ”Kolam di hutan” (1910) karya Heckel, ”Lofthus” (1911) Schmidt Rottluff, ”Orang India dan wanita” (1910) Pechstein, ”Tiga gadis dalam hutan” (1920), ”Sepasang Pecinta” (1919) merupakan karya terbaik ekspresionis Mueller sementara karya pelukis Noide adalah ”Penari lilin” (1912) dan ”Pemakaman” (1915).
Tetapi kelompok Die Brucke tentulah tidak berjalan sendiri-sendiri karena masih banyak sejumlah pelukis lain dari Eropa yang turut memperkaya suasana bersenilukis, bahkan ada yang tidak sepaham dengan kelompok Die Brucke seperti kelompok seniman-seniman Blaue Reiter seperti Alexei Von Jawlensky kelahiran Rusia (1884-1941), Lyonel Feininger (1891-1956) dan Paul Klee (1879-1940). Ketiga mereka dan diperkuat pelukis Kandinsky tahun 1934 membentuk kelompok Die Blauue Vier yang merupakan kelahiran kembali kelompok Reiter.
Hal menarik sepanjang perjalanan ekspresionisme terutama saat paling ganas perang dunia pertama, para pelukis ekspresionis saat itu merasa tidak sehati dan tidak cocok dengan non obyektivitas serta nafas segar dari kelompok kaum Blaue Reitter karena tidak sesuai dengan emosionalitas Brucke yang terlalu individual dan kurang sesuai pada situasi masalah umum. Dengan demikian bermunculanlah kaum atau kelompok yang beranggotakan sejumlah pelukis dengan menggambarkan masalah-masalah umum yang tidak terwadahi kelompok pelukis lain saat itu.
Di tanah air berangkat dari perjalanan panjang kaum ekspresionisme dunia bermunculan sejumlah nama-nama yang kuat karya-karyanya dalam peta seni rupa diantaranya terdapat nama Affandi, Mardian, Zaini. Pelukis maestro Affandi diantara sejumlah pelukis ekspresionis yang ada di Indonesia dinilai sangat kuat dalam karya-karyanya yang ekspresif dengan garis-garis liar dan lancar dipermukaan kanvas tanpa kehilangan nilai estetika tinggi, lihat sejumlah karya-karyanya yang kini tersimpan rapi disejumlah museum dan galeri di tanah air serta beberapa diantaranya terdapat di museum Asia dan Eropa.

5 Pelukis Ekspresionisme:
 Affandi Koesoema (Cirebon, Jawa Barat, 1907 - 23 Mei 1990) adalah seorang pelukis yang dikenal sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia, mungkin pelukis Indonesia yang paling terkenal di dunia internasional, berkat gaya ekspresionisnya dan romantisme yang khas. Pada tahun 1950-an ia banyak mengadakan pameran tunggal di India, Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat. Pelukis yang produktif, Affandi telah melukis lebih dari dua ribu lukisan.
Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia, Eropa, Amerika maupun Australia selalu memukau pecinta seni lukis dunia. Pelukis yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974 ini dalam mengerjakan lukisannya, lebih sering menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya, bermain dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu.
Bahkan, dalam keseharian, ia sering mengatakan bahwa dirinya adalah pelukis kerbau, julukan yang diakunya karena dia merasa sebagai pelukis bodoh. Mungkin karena kerbau adalah binatang yang dianggap dungu dan bodoh. Sikap sang maestro yang tidak gemar berteori dan lebih suka bekerja secara nyata ini dibuktikan dengan kesungguhan dirinya menjalankan profesi sebagai pelukis yang tidak cuma musiman pameran. Bahkan terhadap bidang yang dipilihnya, dia tidak overacting.
Saya melukis karena saya tidak bisa mengarang, saya tidak pandai omong. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan” Bagi Affandi, melukis adalah bekerja. Sampai pada kesan elitis soal sebutan pelukis, dia hanya ingin disebut sebagai tukang gambar.
Sampai ajal menjemputnya pada Mei 1990, ia tetap menggeluti profesi sebagai pelukis.

Lukisan Pertama Affandi:
Judul: Borobudur Di Pagi Hari
Tahun: 1983
Ukuran Asli: 150cm x 200cm
Media: Cat Minyak
Salah satu karya Affandi yang terinspirasi oleh megahnya candi Borobudur dan lingkungan sekitar Pada masa itu

Cerita Lukisan “Borobudur Di Pagi Hari”:
Warna–warna dingin dan suasana tenang mendominasi lukisan ini karena melukiskan suasana pagi hari yang cerah . Dan dilukisan ini Affandy lebih nenonjolkan obyek alam sebagai latar belakang. Perpaduan warna yang digunakan semakin menghidupkan lukisan tersebut karena warna yang digunakan padu antara warna satu dengan warna yang lain.
Dan dilukisan tersebut gambar Candi Borobudur terlihat sangat jelas tanpa kita harus menganalisis makna lukisan tersebut. Dan bentuk mataharinya tidak menyerupai matahari tetapi itu semua malah membuat lukisan tersebut bagus karena menyatu dengan warna langit yang ada pada lukisan tersebut. Warna hijau di lukisan tersebut menggambarkan pepohonan yang ada di situ. walaupun gambar pohon tersebut tidak jelas tetapi sangat bagus. Warnanyapun kontras dengan warna lainnya.

Lukisan Kedua Affandi:
Judul : " Barong dan Leak "
Ukuran : 150cm X 200cm
Media : Oil on Canvas 
Lukisan ini menggambarkan mengenai semangat pahlawan – pahlawan Indonesia untuk meraih kemerdekaan Indonesia dengan mengorbankan jiwa dan raga mereka untuk Indonesia
Cerita Lukisan “Barong Dan Leak”:
Lukisan ini memiliki nilai dan makna historis yang tinggi, dimana karya ini terinspirasi dari semangat baja para Pejuang Indonesia.
Warna-warna yang terang, serta keunikan goresan pada lukisan tersebut menjadi satu sebuah kombinasi sempurna dalam karya lukisan bernilai seni tinggi. Akan menjadi koleksi kebanggaan tak ternilai bagi siapapun yang mengkoleksi Karya Lukisan hebat ini. Dalam lukisan ini sangat terlihat perjuangan para pahlawan yang sangat semangat memperjuangkan Indonesia.

Dan dalam lukisan tersebut terlihat juga semangat para pahlawan yang sangat berkobar – kobar seperti api. Dan tidak lupa dalam lukisan tersebut adanya bambu runcing, bendera merah putih, serta ikat kepala sebagai ciri khas para pejuang bangsa Indonesia.

Lukisan Ketiga Affandi:
Tahun: 1961
Judul : " Potret Diri & Topeng-topeng Kehidupan "
Ukuran : 110cm X 135cm
Media : Oil on Canvas 
Cerita Lukisan “Potret Diri & Topeng-topeng Kehidupan”:
Karya Lukisan sang Maestro Afandi yang berjudul "Potret Diri & Topeng-topeng Kehidupan" merupakan salah satu karya langka dan istimewa dari Afandi, diantara Karya-karya istimewa lainya, namun Lukisan ini memiliki nilai falsafah hidup yang dalam, dimana setiap individu Manusia yang ada di Dunia ini terlahir sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang lainya seperti Malaikat, Jin, Hewan, Dll.
Lukisan Keempat Affandi:
Tahun: 1982
Judul : " Barong I "
Ukuran : 150cm X 200cm
Media : Oil on Canvas
Cerita Lukisan “Barong”:
Kemegahan Lukisan berjudul “Barong” terlihat begitu unik dan indah dari ekspresi goresan serta kombinasi warna tingkat tinggi. Kemegahan Lukisan ini menjadi sempurna dengan kombinasi ukuran Lukisan yang dibuat cukup besar oleh sang Pelukis Maestro Affandi.
Kecintaan Affandi pada seni dan budaya telah menginspirasi Beliau untuk menciptakan karya-karya Lukisan spektakuler bertema Budaya, salah satunya seperti yang tertuang pada Lukisan Barong ini, karena kecintaanya pada Tokoh Barong dalam cerita rakyat Bali, Beliau melukiskanya dalam beberapa Lukisan dengan tema yang sama, dan salah satunya adalah Lukisan Barong berukuran besar ini.

Lukisan Kelima Affandi:
Tahun: 1997
Judul: Minum Tuak
Ukuran: 95x135cm
Media: Oil on Canvas
CeritaLukisan “Minum Tuak”:
Lukisan Di atas merupakan Lukisan langka dan unik bertema “Orang-orang Sedang Minum minuman Tuak / arak ”, merupakan salah satu karya sang Pelukis Maestro Afandi. Keunikan nampak pada nilai seni tradisional dari sisi tema, dilukiskan oleh Afandi dalam bentuk ekspresi yang menyentuh hati dari setiap penikmat Lukisan yang memandangnya.
Sosok kesederhanaan Tempoe Doeloe dari setiap orang dalam Lukisan ini yang sedang minum nikmatnya air tuak atau arak. Harmoni warna-warna Natural yang indah begitu menyatu dengan tema dan obyek Lukisan.
Setiap Lukisan karya Afandi memiliki keunikan tersendiri dan setiap Lukisan karya Afandi adalah mengagumkan, sehingga tak heran Lukisan Beliau banyak diburu para pecinta Lukisan dalam dan Luar Negeri.
Biografi Vincent Van Gogh
Vincent Van Gogh dilahirkan di Zunbert pada tanggal 30 March 1853, wilayah Brabant Utara, Belanda Selatan, ayah Van Gogh, Theodorus, merupakan seorang paderi bagi Gereja Pembaharuan Belanda (bahasa Inggris: Dutch Reformed Church) yang kecil. Ibunya bernama Anna Cornelia Carbentus. Van Gogh mempunyai dua orang adik lelaki dan tiga orang adik perempuan yang bernama Anna, Theo, Cornelius, Elizabeth, and Wilhelmien.
Ketika berusia 12 tahun, Van Gogh bersekolah di sekolah berasrama di kampung Zevenbergen, yang terletak 15 batu dari situ dan tamat sekolah ketika berumur 16 tahun. Pengaruh saudaranya, Cent, beliau bekerja di pejabat Goupil & Cie di Hague. Goupil merupakan pusat pembaik pulih (penyalin lukisan terkenal). Apabila Van Gogh mencapai umur 20 tahun, beliau telah ditukarkan, dengan perakuan yang baik, ke cawangan Goupil di London pada bulan Mei 1873 dengan gaji sebanyak 90 lire setahun. Beliau menyewa sebuah bilik di rumah Mrs. Loyer yang mempunyai seorang anak perempuan bernama Ursula/EugenieVan Gogh mencintai Ursula tanpa memberitahunya dan ketika beliau meluahkan perasaannya terhadap Ursula, beliau mendapati bahawa Ursula tidak pernah mencintainya dan ini mematahkan semangatnya.
Pada 27 Juli 1890, Vincent Van Gogh coba membunuh diri setelah pulih daripada satu lagi serangan epilepsi. Selepas diserang, Van Gogh keluar berjalan. Selepas beberapa ratus ela dari rumah tumpangnya, beliau memasuki sebuah kawasan ladang gandum, dan menembak diri pada bahagian perutnya. Kemudian, Van Gogh berjalan pulang ke rumah tumpang dan kembali ke biliknya sebelum dijumpai terbaring dengan mukanya tersembam di atas katil oleh tuan rumah tumpangan itu. Vincent Van Gogh mati dua hari kemudian selepas peristiwa itu ketika berusia 37 tahun dan dikebumikan di perkuburan bandar Auvers-sur-Oise, Perancis.
Lukisan Pertama Vincent:
Tahun: April 1885
Judul: The Potato Eaters
Ukuran: 82 × 114 cm
Media: Oil on Canvas
Cerita Lukisan “The Potato Eaters”:
Lukisan yang menggambarkan lima orang sederhana yang duduk dan makan kentang ini dalah salah satu karya awal Vincent. Terinspirasi dengan kedekatannya dengan kaum marjinal, lukisan yang pada awalnya kurang diapresiasi tersebut kini dianggap salah satu mahakarya Vincent van Gogh.

Lukisan Kedua Vincent
Tahun: Agustus, 1888
Judul: Sunflowers
Ukuran: 91 x 72 cm
Media: Oil on Canvas
Cerita Lukisan “Sunflowers”:
Vincent beberapa kali melukis bunga matahari yang menunjukkan intensitas unik dalam sesuatu yang sederhana. Lukisan bunga matahari paling terkenal adalah yang ia buat khusus untuk menghias kamar seniman Paul Gauguin.




Lukisan Ketiga Vincent
Tahun: 1888
Judul: Zonsondergang bij Montmajour (Matahari Terbenam di Montmajour)
Ukuran:73.3 cm × 93.3 cm (289 in × 367 in)
Media:Oil On Canvas
Cerita Lukisan “Zonsondergang bij Montmajour”:
Zonsondergang bij Montmajour (bahasa Indonesia: Matahari Terbenam di Montmajour) adalah lukisan minyak lanskap karya seniman Belanda Vincent Van Gogh yang dilukis pada tahun 1888. Lukisan ini dibuat ketika ia menetap di Arles, Perancis, dan memperlihatkan pemandangan Garrigue disertai pepohonan ek dan semak belukar dan reruntuhan Biara Montmajour di belakangnya. Dipajang di Museum Van Gogh, Amsterdam.



Lukisan Keempat Vincent
Tahun: April 1889
Judul: Bunga-bunga Iris
Ukuran: 71×93 cm (28×37 inch)
Media: Cat Minyak on Canvas
Cerita Lukisan “Bunga-bunga Iris”:
Bunga-bunga Iris adalah nama Lukisan karya Vincent Van Gogh. Merupakan satu karyanya ketika ia berada di R.S. Jiwa Saint Paul-de-Mausole di Saint-Remy-de-Provence, Perancis pada saat-saat terakhir menjelang kematiannya tahun 1890. Lukisan tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh lukisan kayu Jepang, seperti kebanyakan karyanya yang lain. Ia menyebut lukisan tersebut "konduktor petir untuk penyakitku" karena ia merasa dapat mencegahnya dari kegilaan dengan tetap meneruskan melukis. Van Gogh menganggap lukisan ini sebagai sebuah lukisan persiapan (sketsa atau lukisan dasar dengan garis-garis bayang yang dipersiapkan sang pelukis untuk mencoba-coba mencari bentuk gambar yang hendak ia lukis kemudian). Saudaranya Theo mendaftarkannya ke pameran bernama Salon des Independants pada September 1889. Ia lalu menulis pesan kepada Vincent mengenai Bunga-bunga Iris: "Lukisan tersebut menjadi perhatian dari jauh. Bunga-bunga Iris adalah lukisan yang cantik, penuh dengan perasaan dan kehidupan."

Lukisan kelima Vincent
Tahun: 1888
Judul: Kamar Tidur di Arles
Ukuran: 52x41cm; (with frame 72x58)
Media: Oil On Canvas
Cerita Lukisan “Kamar Tidur di Arles”;
Ada tiga versi asli lukisan ini yang dijelaskan dalam suratnya dan dapat dibedakan dari foto-foto yang digantung di dinding sebelah kanan.
Lukisan ini menggambarkan kamar tidur Van Gogh di 2, Place Lamartine di Arles, Bouches-du-Rhone, Perancis, yang dikenal juga dengan nama Yellow House. Pintu di sebelah kanan adalah jalan menuju lantai atas dan tangga, sedangkan pintu di sebelah kiri adalah ruang kamar tamu yang dia sediakan untuk Gauguin. Pemandangan dari jendela di dinding depan adalah jalan Place Lamartine dan taman umumnya. Kamar ini tidak berbentuk persegi, melainkan trapezoid, dengan sudut tumpul di sebelah kiri jendela dan sudut siku-siku di sebelah kanannya.

Biografi Heinrich Campendonk
Heinrich Campendonk (3 November 1889 - 9 May 1957) adalah seorang pelukis Belanda kelahiran Jerman.
Ia lahir di Krefeld. Beliau adalah anggota dari kelompok Der Blaue Reiter, 1911-1912. Ketika rezim Nazi berkuasa pada tahun 1933, ia berada di antara banyak modernis dikutuk sebagai merosot seniman, dan dilarang menunjukkan. Dia pindah ke Belanda di mana dia menghabiskan sisa hidupnya bekerja di Rijksakademie di Amsterdam, pengajaran pertama Dekoratif Seni, seni grafis, dan kaca, kemudian sebagai Direktur Akademi. Ia meninggal sebagai seorang Belanda naturalisasi.







Lukisan Pertama Vincent
Tahun: 1914
Judul: The Elephant
Ukuran: h: 31.5 x w: 48 cm / h: 12.4 x w: 18.9 in
Media: Oil on Canvas












Lukisan Kedua Heinrich
Tahun: 1913
Judul: Composition with Two Cows
Ukuran:
Media: Oil on Canvas










Lukisan Ketiga Heinrich
Tahun: 1911
Judul: Rider with Lasso
Ukuran:
Media: Oil on Canvas








Lukisan Keempat Heinrich
Tahun: 1914
Judul: Cow with Calf
Ukuran:
Media: Oil on Canvas









Lukisan Kelima Heinrich
Tahun: 1933
Judul: Rotes Bild mit Pferden
Ukuran:
Media:











Biografi Egon Schiele







Schiele lahir pada tahun 12 Juni 1890 di Tulln, Austria Hilir. Ayahnya, Adolf Schiele, adalah  master stasiun Tulln di State Railways Austria, ibunya Marie, Soukupová née, adalah Ceko dari ÄŒeský Krumlov (Krumau), di Bohemia selatan.
Egon Schiele 12 Juni 1890 - 31 Oktober 1918) adalah seorang pelukis Austria. Sebuah anak didik Gustav Klimt, Schiele adalah seorang pelukis figuratif utama dari awal abad 20. Karyanya yang terkenal karena intensitas, dan banyak potret diri seniman yang dihasilkan. Bentuk tubuh bengkok dan garis ekspresif yang mencirikan lukisan Schiele dan gambar menandai artis sebagai eksponen awal Ekspresionisme.
.







Lukisan Pertama Egon Schiele











“Seated Women and Bent Knee”
Artist: Egon Schiele
Completion Date: 1917
Place of Creation: Vienna, Austria
Style: Expressionism
Genre: portrait
Technique: crayon, gouache, watercolor
Material: paper
Gallery: Národni Galerie, Prague, Czech Republic


Lukisan Egon Kedua











“Cardinal and Nun”
Artist: Egon Schiele
Completion Date: 1912
Style: Expressionism
Technique: oil
Material: canvas
Gallery: Private Collection



Lukisan Egon Ketiga

“Death and Maiden”
Artist: Egon Schiele
Completion Date: 1915
Place of Creation: Vienna, Austria
Style: Expressionism
Technique: oil
Material: canvas
Gallery: Ã–sterreichische Galerie Belvedere, Vienna, Austria



Lukisan Egon Keempat










“The Family”
Artist: Egon Schiele
Completion Date: 1918
Place of Creation: Vienna, Austria
Style: Expressionism
Genre: portrait
Technique: oil
Material: canvas
Dimensions: 152 x 162.5 cm
Gallery: Ã–sterreichische Galerie Belvedere, Vienna, Austria



Lukisan kelima Egon










“Melon”
Artist: Egon Schiele
Completion Date: 1905
Place of Creation: Tulln an der Donau, Austria
Style: Impressionism
Genre: still life
Dimensions: 29.7 x 41.7 cm
Gallery: Niedersächsisches Landesmuseum, Hannover, Germany




Biografi Vassily Vassilyevich Kandinsky








Vassily Vassilyevich Kandinsky 1866-1813 December 1944) adalah seorang pelukis Rusia berpengaruh dan teori seni. Dia dikreditkan dengan lukisan pertama karya abstrak murni. Lahir di Moskow, Kandinsky menghabiskan masa kecilnya di Odessa. Dia terdaftar di Universitas Moskow, belajar hukum dan ekonomi. Sukses dalam bukunya profesi-ia ditawari jabatan guru (ketua Hukum Romawi) di Universitas Dorpat-ia mulai melukis studi (life drawing, sketsa dan anatomi) pada usia 30.
Pada tahun 1896 Kandinsky menetap di Munich, belajar pertama di sekolah swasta Anton Ažbe dan kemudian di Academy of Fine Arts. Ia kembali ke Moskow pada tahun 1914, setelah pecahnya Perang Dunia I. Kandinsky simpatik terhadap teori resmi pada seni di Komunis Moskow, dan kembali ke Jerman pada tahun 1921. Di sana, ia mengajar di sekolah Bauhaus seni dan arsitektur dari tahun 1922 sampai Nazi menutupnya pada tahun 1933. Dia kemudian pindah ke Perancis di mana ia tinggal selama sisa hidupnya, menjadi warga negara Perancis pada tahun 1939 dan memproduksi beberapa seni yang paling menonjol. Ia meninggal di Neuilly-sur-Seine pada tahun 1944.



Karya Lukisan Vassily Pertama









“On White II”
Completion Date: 1923
Place of Creation: Germany
Style: Abstract Art
Technique: oil
Material: canvas
Dimensions: 105 x 98 cm
Gallery: Musée National d'Art Moderne, Centre Georges Pompidou, Paris, Franc

Lukisan Vassily Kedua










“Blue Rider”
Completion Date: 1903
Place of Creation: Munich / Monaco, Germany
Style: Expressionism
Genre: landscape
Technique: oil
Material: cardboard
Dimensions: 55 x 65 cm


Lukisan Vassily Ketiga








 

 

 

MunichSchwabing with the church of St. Ursula

Completion Date: 1908
Place of Creation: Munich / Monaco, Germany
Style: Expressionism
Genre: cityscape
Dimensions: 68.8 x 49 cm




Lukisan Vassily Keempat









“Lyrical (Lyrics)”
Completion Date: 1911
Place of Creation: Munich / Monaco, Germany
Style: Abstract Art
Technique: oil
Material: canvas
Dimensions: 94 x 130 cm




Lukisan Vassily Kelima

“Farewell’’
Completion Date: 1903
Place of Creation: Munich / Monaco, Germany
Style: Expressionism
Technique: woodcut
Dimensions: 31.2 x 31.2 cm



36
Biodata:

Nama: Elisabeth Ruthma Meilani Saragih
Panggilan: Elis
Born On: May 27th 1999


Nama: Cindy Nur Khaliza
Nama Panggilan: Cindy
Born on: May 22nd 1999





Nama: Aulia Nur Azizah
Nama Panggilan: Aulia
Born On: Feb 24th 1999
















Nama: Dion Putra Pratama
Nama Panggilan: Dion
Born On: March 6th 1999


















Nama: Muhammad Arief Nadhofa
Panggilan: Arif
Born On: May 30th 1999





BAB IV
PENUTUPAN
A.    KESIMPULAN
Berdasarkan seluruh uraian dari hasil kerja kelompok dan pembahasan dalam makalah ini, dapat ditarik kesimpulan yang berkenaan dengan Seni Lukis Ekspresionisme, antara lain :
1.      Seni Lukis ekspresionisme dituangkan berdasarkan emosi sang pelukis ke dalam kanvas. Dan biasanya menonjolkan warna yang lebih menarik.
2.      Sejarah yang ada dibalik lukisan tersebut sangat beragam.
3.      Beberapa faktor penghambat yang ada tidak membuat pelukis berhenti membuat karya

B.     SARAN
Saran merupakan petunjuk atau masukan yang memajukan dan juga bukan suatu keharusan untuk dilaksanakan. Dari segi pengertian tersebut maka penulis memberikan saran-saran sebagai berikut :
Sejrah Lukisan seharusnya lengkap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar